ZHsUuqapmVq6WEAviVpqkm2vfcrvCXMDInLmHdSj

BENTUK-BENTUK MUHASABAH DAN CARA MEMULAINYA

Daftar Isi [ Buka ]
cara muhasabah

Pada pembahasan sebelumnya kita telah belajar tentang makna muhasabah dan keutamaannya. Kali ini mari kita belajar bersama tentang bentuk-bentuk muhasabah/ introspeksi diri dan cara memulai ber-muhasabah

A. Bentuk-Bentuk Muhasabah

1.  Muhasabah sebelum beramal

Yang bisa dilakukan untuk tujuan ini ialah de­ngan melihat dan memperhatikan keinginan jiwa ketika akan berbuat. Hendaknya kita menilai apa­kah keinginan yang terlintas itu untuk kebaikan dan ada manfaatnya ataukah kejelekan semata. Jika baik maka bisa dikerjakan, namun jika tidak hen­daknya dibatalkan.

Imam Hasan al-Bashri رحمه الله berkata: "Semoga Alloh merahmati seseorang yang bisa me­nilai ketika timbul keinginannya. Jika keinginannya karena Alloh dia teruskan, namun apabila untuk selain-Nya dia akhirkan." {1}

Dengan demikian, jenis muhasabah sebelum beramal ini sangat penting untuk menimbang apakah amalan yang akan kita kerjakan baik ataukah jelek, ikhlas kare­na Allah عزّوجلّ ataukah ingin riya'. Tujuannya agar benar-benar amalan kita diterima di sisi Alloh عزّوجلّ dan tidak sekedar beramal tanpa mempedulikan akibatnya, sehingga termasuk dalam firman Alloh عزّوجلّ yang berbunyi:

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ. تَصْلَى نَاراً حَامِيَةً

"Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sa­ngat panas (neraka)." (QS. al-Ghosyiyah [88]: 3-4)

2.  Muhasabah setelah beramal

Jenis muhasabah ini ada tiga bentuk :

  • Muhasabah terhadap ketaatan yang su­dah dikerjakan akan tetapi masih ada celah-celah yang kurang. Yang harus dipenuhi ke­tika mengerjakan ketaatan adalah ikhlas. Hendaklah perkara ini menjadi inti perhatiannya dalam beramal.
  • Muhasabah terhadap seluruh perbuatan yang bila ditinggalkan akan lebih baik daripada diker­jakan. Contoh kongkretnya adalah bila mengerjakan kemaksiatan atau mengerjakan perbuatan yang tidak wajib hingga perkara yang wajib ter­lalaikan, seperti orang yang sholat tahajjud se­malam suntuk hingga sholat subuhnya terlewat­kan.
  • Muhasabah terhadap perkara yang boleh atau kebiasaan. Yaitu dengan bertanya pada diri sendi­ri apakah saya mengerjakannya ada niat ibadah ataukah sekedar rutinitas biasa. Karena perkara yang boleh atau kebiasaan bisa bernilai ibadah jika diniatkan ibadah. Sahabat Mulia Mu'adz bin Jabal per­nah berkata :
أَمَّا أَنَا فَأَقُومُ وَأَنَامُ وَأَرْجُو فِي نَوْمَتِي مَا أَرْجُو فِي قَوْمَتِي

"Adapun saya, maka saya sholat dan tidur. Dan saya berharap dalam tidur saya apa yang saya harapkan dalam sholat saya." (HR. al-Bukhori: 4086, Mus­lim: 1733) {2}

B.  Cara Memulai Muhasabah

Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله menjelaskan langkah-langkah cara memulai
  1. Hendaknya mulai dari perkara-perkara yang wajib, apabila menjumpai kekurangan maka berusahalah untuk menutupnya. 
  2. Kemudian perkara-perkara yang dilarang, jika sadar bahwa dirinya pernah menger­jakan yang haram maka tambah lah dengan taubat, istighfar dan perbuatan baik yang bisa menghapus dosa. 
  3. Kemudian introspeksi diri terhadap perkara yang melalaikan dari tujuan hidup ini. Jika sela­ma ini banyak lalai, maka hilangkan lah kelalaian tersebut dengan banyak dzikir, menghadap Alloh عزّوجلّ. 
  4. Kemudian introspeksi diri terhadap anggota badan, ucapan yang keluar dari lisan, langkah kaki yang diayunkan, pandangan mata yang dilihat, telinga dalam hal yang didengarkan. Tanyakan­lah dalam diri, apa yang saya inginkan dengan ini, untuk siapa saya kerjakan dan bagaimana saya mengerjakannya." {3}

Demikianlah bentuk-bentuk muhasabah dan cara memulai muhasabah. Mudah-mudahan kita termasuk hamba Allah yang selalu dijaga keimanan dan ketaqwaannya melalui muhasabah/ introspeksi

Semoga catatan sederhana ini dapat bermanfaat terkhusus bagi Admin. Wallahu A'lam bish-showaab

Tegal, 30 Juli 2020 
Alfaqiir ilaa Rahmatillah




============
Sumber bacaan :
  1. HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 5/458
  2. Ighotsatul Lahfan: 1/162-164, Ibnul Qoyyim
  3. Ighotsatul Lahfan

Related Posts

Posting Komentar